Senin, 22 Oktober 2012

Perkembangan Sosial, Kepribadian, Moral dan Agama Pada Masa Kanak-kanak Akhir

BAB I
Pendahuluan
A.    Abstrak
Periode ini dimulai sejak anak-anak berusia enam sampai seksualnya matang. Kematangan seksual sangat bervariasi baik antara jenis kelamin maupun antar budaya yang berbeda. Anak-anak sudah lebih mandiri. Pada masa inilah anak paling peka dan siap untuk belajar dan dapat memahami pengetahuan dan selalu ingin bertanya dan memahami.
Perkembangan kepribadian anak sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosial. Perkembangan sosial anak mulai meningkat yang ditandai dengan adanya perubahan pengetahuan dan pemahaman mereka mengatahui kebutuhan ketentuan maupun peraturan-peraturan. Selain itu hubungan antara anak dan keluarga, teman sebaya dan sekolah sangat mewarnai perkembangan sosialnya. Nah, pada pembahasan kali ini saya menyajikan materi dengan tema perkembangan sosial, moral, kepribadian dan agama pada masa anak-anak akhir.
B.     Rumusan Masalah
Bagimana perkembangan agama, sosial, moral dan kepribadian pada masa akhir kanak-kanak. Serta implementasinya dengan pendidikan.

BAB II
Pembahasan
A.    Perkembangan Sosial
Maksud perkembangan sosial ini adalah pencapaian kematangan dalam hubungan sosial. Perkembangan sosial pada masa anak-anak akhir atau anak sekolah dasar ditandai dengan adanya perluasan hubungan, disamping dengan keluarga juga dia mulai membentuk ikatan baru dengan teman sebaya (peer group) atau teman sekelas, sehingga ruang gerak hubungan sosialnya telah bertambah luas.
Pada usia ini, anak mulai memiliki kesanggupan menyesuaikan diri-sendiri (egosentris) kepada sikap yang kooperatif (berkerja sama) atau sosiosentris (mau memperhatikan kepentingan orang lain). Anak dapat berminat terhadap kegiatan-kegiatan teman sebayanya, dan bertambah kuat keinginannya untuk diterima menjadi anggota kelompok (gang), dia merasa tidak senang apabila tidak diterima dalam kelompoknya.[1]
Pengelompokan sosial dan perilaku Sosial Masa Akhir Kanak-kanak
1.      Ciri geng Anak-anak
a.     Geng anak merupakan kelompok bermain
b.     Untuk menjadi anggota geng, anak harus diajak
c.    Pada mulanya geng terdiri dari tiga atau empat anggota, tetapi jumlah ini meningkat dengan bertambah besarnya anak dan bertambahnya minat pada olahraga.
d.     Geng anak laki-laki lebih sering terlibat dalam perilaku sosial buruk pada anak perempuan.
e.     Kegiatan geng yang populer meliputi permainan dan olahraga, pergi ke bioskop, dan berkumpul untuk bicara atau makan bersama.
f.       Geng mempunyai pusat tempat pertemuan, biasanya yang jauh dari pengawasan orang-orang dewasa.
g.   Sebagian besar kelompok mempunyai tanda keanggotaan, misalnya anggota kelompok memakai pakaian yang sama.
h.    Pemimpin geng mewakili ideal kelompok dan hampir dalam segala hal lebih unggul daripada anggota-anggota yang lain.
2.      Efek dari keanggotaan kelompok
a.    Menjadi anggota geng seringkali menimbulkan pertengkaran dengan orangtua dan penolakan terhadap standar orangtua.
b.      Permusuhan antara anak laki-laki dan anak perempuan semakin meluas.
c.       Kecenderungan anak yang lebih tua untuk mengambangkan prasangka terhadap anak yang berbeda.
d.     Dalam banyak hal merupakan akibat yang paling merusak, ialah cara anak memperlakukan anak-anak yang bukan anggota geng, mereka seringkali bersifat kejam kepada anak-anak yang tidak dianggap sebagai anggota geng.
3.      Teman pada Masa akhir kanak-kanak, Seperti halnya dengan masa awal kanak-kanak, teman pada masa akhir kanak-kanak terdiri dari rekan, teman bermain, atau teman baik.
4.      Perilaku Teman, Perlakuan yang kurang baik tidak hanya ditunjukkan kepada anak yang bukan anggota kelompok. Pola sama juga terdapat dalam persahabatan anak-anak, sehingga persahabatan mereka jarang yang tetap.
5.      Status sosiometri, Sebelum akhir masa kanak-kanak berakhir sebagian besar anak-anak tidak hanya menyadari status sosiometri mereka, yaitu status yang mereka senangi pada kelompok sosial, tetapi juga status sosiometri dari teman-teman sebayanya mereka.
6.      Pemimpin pada masa akhir kanak-kanak, Anak yang dipilih teman-temannya untuk berperan sebagai pemimpin pada masa akhir kanak-kanak, mendekati ideal kelompok, tetapi juga memiliki ciri-ciri yang dikagumi.[2]
Implementasi perkembangan sosial anak terhadap penyelenggaraan pemebalajaran di SD, adalah guru harus berperan sebagai : Konservator (pemelihara) tehadap nilai-nilai yang merupakan sumber norma yang akan dilakukan oleh peserta didik, Transmitor (penerus) ilmu pengetahuan terhadap peserta didik. Transformator (penerjemah), pendidik harus memberikan contoh yang baik terhadap peserta didik dalam berinteraksi dengan peserta dirdik. Organisator (penyelenggara), pendidik harus menyelenggaran pendidikan yang kondusif bagi peserta didik.[3]

B.     Perkembangan Kepribadian
Gordon W. Allport mengemukakan, “Personality is dynamic organization within the individual of those psycophysycal system, than determines his unique adjusment this environment”. (Kepribadian adalah organisasi dinamis dalam diri individu sebagai sistem psikofisis yang menentukan caranya yang khas dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan).[4]
Mutu hubungan dengan orangtua, saudara kandung dan sanak saudara lain, dan pandangan anak mengenai metode pelatihan anak yang digunakan dirumah, semuanya berperan dalam menentukan kepribadian anak. Faktor-faktor yang mempengaruhi kepribadian atau konsep diri :
1.      Perkembangan konsep diri ideal, Anak-anak membentuk konsep diri yang ideal, anak menjadi sosok tokoh ide. Pada mulanya, konsep diri yang ideal mengikuti pola yang digariskan oleh orang tua, guru, dan orang-orang sekitar dalam lingkungannya. Kemudian dengan meluasnya cakrawala juga menikuti pola atau tokoh-tokoh yang dibaca atau didengar.
2.      Mencari identitas, Pencarian identitas dimulai pada bagian akhir masa kanak-kanak dan mencapai tahap kritis dalam masa remaja.[5]
Dalam proses pembelajaran Tugas-tugas perkembangan menuntut anak usia SD mampu menjadi pribadi-pribadi yang mandiri. Kemandirian ini ditunjukkan pada kemampuan membuat perencanaan dan melaksanakan kegiatan belajar/sekolahnya tanpa harus selalu diarahkan oleh guru maupun orang tua. Sehubungan tugas pencapaian kemandirian ini, maka guru dalam melaksanakan proses pembelajarannya mengacu pada kemandirian. Baik kemandirian dalam tugas individual maupun kemandirian dalam tugas-tugas kelompok.[6]

C.     Perkembangan Moral
Anak mulai menganal konsep moral (mengenal benar salah atau baik-buruk) pertama kali dari lingkungan keluarga. Pada mulanya, mungkin anak tidak mengerti konsep moral ini, tetapi lambat laun anak akan memahaminya. Usaha menanamkan konsep moral sejak usia dini (prasekolah) merupakan hal yang seharusnya, karena informasi yang diterima anak menganai benar-salah dan baik-buruk akan menjadi pedoman pada tingkah lakunya di kemudian hari.
Pada usia sekolah dasar, anak sudah dapat mengikuti peraturan atau tuntunan-tuntunan dari orangtua atau lingkungan sosialny. Pada akhir usia ini, anak sudah memahami alasan yang mendasari suatu peraturan. Disamping itu, anak sudah dapat mengasosiasikan setiap perilaku dengan konsep benar-salah atau baik-buruk.[7]
1.      Sikap dan prilaku moral Masa Akhir Kanak-kanak
a.       Perkembangan kode moral, Pada akhir masa kanak-kanak seperti halnya awal masa remaja, kode moral sangat dipengaruhi oleh standar moral dari kelompok dimana anak mengidentifikasikan diri.
b.      Peran disiplin dalam pengambangan moral, Kalau disiplin dibutuhkan dalam perkembangan, haruslah disesuaikan dengan tingkat perkembangan anak.
c.       Perkembangan suara hati, Istilah suara hati berarti suatu reaksi khawatir yang terkondisi terhadap situasi dan tindakan tertentu yang telah dilakukan dengan jalan menghubungkan perbuatan tertentu dengan hukuman.
d.       Pelanggaran hukum pada akhir masa kanak-kanak, Pelanggaran menjadi semakin berkurang. Menurunnya pelanggaran mungkin karena adanya kematangan, baik fisik maupun psikologis, tetapi lebih sering karena kurangnya tenaga yang merupakan ciri pertumbuhan yang pesat yang mengiringi bagian awal dari masa puber. Banyak anak prapuber yang sama sekali tidak mempunyai tenaga untuk menjadi nakal.[8]
Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal, mempunyai peranan penting dalam rangka pengembangan kata hati, moral dan nilai-nilai melalui proses pembelajaran. Bimbingan merupakan salah satu tehnik untuk membantu siswa utamanya yang mengalami hambatan atau permasalahan yang berkaitan dengan pengembangan ini.
Implementaasi perkembangan terhadap penyelenggraaan pendidikan masa kanak-kanak akhir atau anak SD guru mengarahkan anak didikanya untuk melakukan kebaikan dan selalu menanamkan kejujuran karena pada tahap perkembangan ini anak SD sudah mengetahui peraturan dan tuntutan dari orang tua atau lingkungan sosial, disamping itu anak telah dapat mengasosiasikan perbuatannya dengan lingkungan di sekiranya. Misalnya perbuatan nakal, jujur, adil serta sikap hormat baik terhadap orang tua, guru dan lingkuangan sekitamya.[9]
D.    Perkembangan Agama
Salah satu kelebihan manusia sebagai makhluk Allah SWT, adalah dia dianugerahi fitrah (perasaan dan kemampuan) untuk mengenal Allah dan melakukan ajaran-Nya. Dalam kata lain, manusia dikaruniai insting religius (naluri beragama), karena memiliki fitrah ini kemudian manusia dijuluki sebagai “Homo Devinans”, dan “Homo Religious”, yaitu makhluk yang bertaruh atau beragama.[10]
Pada masa ini, perkembangan penghayatan keagamaanya di tandai dengan ciri-ciri sebagai berikut :
1.      Sikap keagamaan bersifa reseptif disertai dengan pengertian.
2.      Pandangan dan paham ketuhanan diperolehnya secara rasional berdasarkan kaidah logika yang berpedoman pada indikator alam semesta sebagai manifestasi dari keagungannya.
3.      Penghayatan secara rohaniyah semakin mendalam, pelaksanaan kegiatan ritual diterimanya sebagai keharusan moral.[11]
Berkaitan dengan pendidikan dan penanaman akhlak pada anak, Rasulullah SAW bersabda “Didiklah Anak – Anak Kalian, Sesungguhnya Mereka Diciptakan Menjadi Generasi Yang Berbeda Dengan Generasi Zaman Kalian” (HR Tirmidzi).[12]
Ruang lingkup dan cakupan pendidikan agama islam untuk anak diperlukan pengetahuan dan pemahaman yang cermat dalam memilih materi dan strategi pendekatan yang tepat. Hal ini didasarkan kepada pertimbangan bahwa tingkat pemehaman anak adalah terbatas. Setidaknya terdapat dua kelompok besar bidang pengembangan dalam pendidikan agama islam untuk anak, yaitu bidang pembentukan perilaku melalui pembiasaan dan pengembangan moral dan nilai – nilai agama.[13]

BAB II
Penutup
A.    Kesimpulan
Akhir masa kanak-kanak berlangsung dari enam tahun sampai anak mencapai kematangan seksual, yaitu sekitar 13 tahun bagi anak perempuan dan 14 tahun bagi anak laki-laki oleh orangtua disebut masa menyulitkan. Oloeh para pendidik disebut usia “sekolah dasar” dan oleh ahli psikologi disebut “usia kelompok” atau “usia kreatif”.
Masa ini disebut “usia kelompok” karena anak berminat akan kegiatan dengan teman-teman dan ingin menjadi bagian dari kelompok yang mengharapkan anak untuk menyesuaikan diri dengan pola perilaku. Pada masa ini sebgaian anak mengembangkan kode moral yang dipengaruhi oleh standar moral kelompoknya dan hati nurani yang membimbingnya sebagai pengganti pengawasan dari luar yang pada waktu anak masih kecil, sekalipun demikian pelanggaran rumah di sekolah dan di lingkungan.
B.     Saran
Masa kanak- kanak merupakan periode yang dinamis secara psikologis bagi perkembanganny. Anak–anak mempunyai kemampuan untuk meniru perilaku orang dewasa dan agama beserta lembaga- lembaganya seyogyanya menyediakan model- model cara hidup dan perilaku yang anak dapat menirunya.
Tetapi tanggung jawab lembaga tidak terbatas disitu, Pengalaman anak lebih penting dan bertahan lama terjadi pada tingkat yang mendalam dan personal. Seharsnya lembaga tersebut menyediakan model dalam menyampaikan bahan informasi sesuai dengan tingkat dan daya tangkap anak.

Daftar Pustaka

Anonim. (2010). “Perkembangan anak terhadap penyelanggaraan pendidikan”. Diakses dari website http://dianzansori.wordpress.com

Anonim. (2012). “Perkembangan Peserta Didik”. Diakses dari website http://pulungdwiwardani.wordpress.com

Hartati, Netty.  Dkk. (2004).  Islam dan Psikologi. Jakarta: Raja Grafindo Persada

Makmun, Abin Syamsudin. (1997). Psikologi Kependidikan, dalam Syamsu Yusuf. (2001). Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Tahja,  Yuridika. (2011). Psikologi Perkembangan. Jakarta : Pernada Media Group

Wahid, Abdul. (2008). Isu –Isu Kontemporer Pendidikan Islam. Semarang: Need’s Press

Yusuf, Syamsu. (2011). Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: PT Remaja Rosdakarya


[1] Syamsu Yusuf, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2011) hlm. I80
[2]
Yuridika Tahja, Psikologi Perkembangan ( Jakarta : Pernada Media Group, 2011) hlm. 208-210
[3]
http://dianzansori.wordpress.com
[4] Syamsu Yusuf, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja...,hlm. 126
[5]
Yuridika Tahja, Psikologi Perkembanga..., hlm. 213-214
[6]
http://pulungdwiwardani.wordpress.com
[7]
Syamsu Yusuf, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja...,hlm. 182
[8]
Yuridika Tahja, Psikologi Perkembanga..., hlm. 211-212
[9]
http://pulungdwiwardani.wordpress.com
[10]
Syamsu Yusuf, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja..., hlm. 136
[11]
Abin Syamsudin Makmun, Psikologi Kependidikan, 1997 dalam Syamsu Yusuf, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja...,hlm.182-183
[12]
Netty hartati, dkk, Islam dan Psikologi (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004) hlm. 36-39
[13]
Abdul Wahid, Isu –Isu Kontemporer Pendidikan Islam (Semarang: Need’s Press, 2008) hlm 258 - 259

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

di tunggu komentarnya